Tampilkan postingan dengan label barang abnormal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barang abnormal. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

10 PRINSIP SAAT MELAKUKAN KERJA PEMERIKSAAN TOTAL


Perhatikan item-item yang tertera di bawah berikut, pada saat melaksanakan pekerjaan pemeriksaan total.

1. Hal Penetapan Penanggung Jawab yang Menyusun Pekerjaan.
  [ Siapa ] yang memikul tanggung jawab, memberikan instruksi kerja dan menetapkan penyusunannya.

2. Hal Menjelaskan Item-item Pemeriksaan Keseluruhan (Total)
  Menjelaskan tentang memeriksa (mengecek) [ apa ]

3. Hal Memperjelas Batasan-batasan
  Mempertimbangkan standar-standar dan kegunaan-kegunaannya, dan menetapkan lingkup yang dapat diterima (seperti : sampel terbatas)

4. Memperlihatkan Barang Sesungguhnya (Barang Tidak Layak/ NG), dan Memberikan Pemahaman Tentang Isi Tersebut Kepada Pelaksana Pemeriksaan Total.
  Untuk meningkatkan kepresisian pemeriksaan total.

5. Hal Memperjelas Metode Pemeriksaan Total
  Visual (rasa) , alat ukur, jig / alat bantu kerja

6. Hal Memperjelas Identifikasi (Tempat Peletakan / Boks / Papan Petunjuk, dll) Pada Barang yang Belum Diperiksa Keseluruhannya, Barang Layak (OK) dan Barang Tidak Layak (NG).
  Untuk pencegahan tercampurnya barang.

7. Hal Kehadiran (Menyaksikan) Saat Adanya Pemeriksaan Total. (Saat Permulaan, Pertengahan dan Akhir)
  Untuk menegaskan apakah dilakukan dengan metode yang benar.
       Hal lainnya, untuk menegaskan tidak adanya hal abnormal atau hal konfirmasi.
8. Hal Mencatatkan Data Rekam. (Label Cek Pemeriksaan Total)
  Mendata-rekamkan tanggal pemeriksaan, jumlah total yang diperiksa, jumlah barang tidak layak (NG), isi ketidaklayakan barang, work number serta Lot No.

9. Hal Meminta Dilakukannya Pemeriksaan Setelah Melampirkan Barang Yang Tidak Masuk Pemeriksaan dan Label Cek untuk Pemeriksaan Total.
  Untuk memastikan kondisi dan pengambilan tindakan selanjutnya.

10. Hal Memperjelas Konfirmasi Lot Subjek Pemeriksaan dan  Lot Pengiriman.
  Untuk memungkinkan pelacakan Lot

Perhatian )
Terutama ketika melaksanakan pemeriksaan terhadap perpindahan/ perjalanan barang, maka item-item 1 ~ 8 dilaksanakan secara jelas untuk mencegah terjadinya percampuran barang atau kebocoran/ kelengahan pengecekan.
  Pada pemeriksaan total untuk tampilan luar (appearance) , lakukanlah item-item 1 ~ 2 / orang, dan mengambil system yang berurutan. (Bila item-item pengecekannya banyak, ada kemungkinan bahaya kebocoran/ kelengahan dalam pengecekan)

10 ATURAN UNTUK PENCEGAHAN TERJADINYA PENCAMPURAN DAN BARANG ABNORMAL


SEIRI SEITON (KETERATURAN, KERAPIHAN)
1. Melakukan pemisahan antara Pekerjaan (Work) dengan Pengecekan (Check).
    Menuliskan nomor resi (move ticket) dan resi barang yang sebenarnya, memasukkan barang ke dalam kotak/ dus kemasan, dan pekerjaan pembungkusan itu yang disebut dengan kerja.
     Hal yang disebut dengan pengecekan adalah menegaskan tudak adanya perbedaan/ kesalahan dalam kerja (Work), dan merupakan salah satu dari kerja tersebut.
     Orang melakukan pekerjaan dan orang yang melakukan pengecekan, harus dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

2. Memperjelas point-point kerja.
     Mengetahui dengan baik dan memahami dengan benar untuk apa dan bagaimana melakukan pekerjaan tersebut. Lebih jauh, menjalankan pekerjaan itu setelah memahaminya dengan benar.

3. Mematuhi Prinsip One Work : One Desk (Satu Meja untuk Satu Pekerjaan )
    Satu pekerjaan dilakukan hanya dengan menggunakan satu unit kerja.
    Tidak melakukan pekerjaan lebih dari 2 jenis dan lebih dari 2 orang/ person dalam pekerjaan dan unit kerja yang sama.
       Kemungkinan terjadinya kesalahan akan meningkat.

4. Pastikan untuk Menjalankan Pekerjaan Setelah Mengecek Spesifikasi
   Tidak melakukan pekerjaan [ mungkin (berdasarkan perasaan) ], namun menjalankan pekerjaan dengan [ menunjuk jari/ Yubisashi (memastikan hal) ] secara jelas satu per satu.
   Tidak mengalirkan barang setelah menerima dan merasakan ada yang aneh ? atau ada yang salah ?, tapi menjalankan pekerjaan setelah memastikan/ mengecek secara jelas.


5. Memberikan Petunjuk Tentang Nama Barang (No. Drawing)
  Pastikan memberikan petunjuk mengenai nama barang (No. Drawing) pada material dan barang.
  Perlakukan sebagai kondisi abnormal, dikarenakan ada barang yang tidak tertempel/ tertera nama barang (No. Drawing)

6. Mengklasifikasikan dan Mengidentifikasi Secara Jelas mengenai Barang-barang yang Mirip (Memiliki Kesamaan)
  Mendasarkan pekerjaan, cara mengingat, cara penyebutan nama barang dan nomor barang secara lengkap (full name) dan utuh (full member).
  Untuk barang-barang yang mirip (memiliki kesamaan), menyebutkan secara benar dan eksplisit tempat/ lokasi identifikasinya secara jujur/ benar, dan melanjutkan pekerjaan setelah memastikan semuanya dengan jelas.

7. Melakukan Kontrol Jumlah
  Menjelaskan dengan benar jumlah produksi, jumlah barang dalam proses, jumlah barang yang tidak layak / NG, jumlah barang untuk stock, jumlah barang untuk di-delivery, jumlah barang kurang, dan meletakkannya setelah mendata-rekamkan agar dimengerti siapa, jam berapa dan penanganan apa yang telah diberikan.

8. Mengklasifikasikan Setiap Proses Produksi.
  Mengklasifikasikan dan menjelaskan pada setiap tahapan dan pemrosesan seperti belum terproses, selesai proses, sebelum pengecekan, atau selesai pengecekan.
  Penggantian setiap jenis barang dilakukan setelah memastikan/ mengecek hal pembersihan secara jelas (tidak ada barang yang tertinggal).

9. Tidak Meletakkan Barang Produk atau Material yang Tidak Diperlukan di Area Genba (Lapangan) Untuk Pekerjaan Produksi Segera (Immediately Production)
  Menghindari hal tersebut, karena akan menjadi awal terjadinya kesalahan bila meletakkan barang abnormal, barang-barang mirip (memiliki kesamaan), barang tidak layak / NG, atau barang setengah jadi (dalam proses), di area Genba (lapangan).

10. Bila Terjadi Masalah, Mengambil Langkah-langkah Untuk Mengisolasi dan Menangani Akar Penyebab Masalah
  Untuk hal investigasi penyebab, memberikan prioritas kepada akar penyebab serta fakta, dan bukan mengejar tanggung jawab individu.
  Untuk tindakan penanganannya, maka dilakukan dengan memotong akar penyebab masalah.