Senin, 27 Agustus 2012

Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam Pengajaran Pendidikan Sosial di Negara Jepang

Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam Pengajaran Pendidikan Sosial di Negara Jepang 

1. Pendahuluan
Sougoutekina Gakushuu no Jikan menjadi salah satu pertanda bahwa dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini sistem pendidikan Jepang mengalami perubahan yang cukup berarti. Diawali dari sebuah pertanyaan “Apakah dengan memahami isi buku teks pegangan siswa, peserta didik dijamin mampu “bertahan hidup” setelah terjun ke masyarakat?”. Pertanyaan ini yang mendasari lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan. Pemikiran bahwa banyak permasalahan sosial muncul yang belum tentu bisa terpecahkan dengan cara memahami dan menuntaskan buku teks pegangan siswa saja, memperkuat lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan. Karena masih banyak anggapan di kalangan pengajar bahwa memahami identik dengan menghafal, siswa bisa mengerjakan tes, kemudian nilai hasil tes menjadi tolok ukur keberhasilan peserta didik.
Sougoutekina Gakushuu no Jikan, merupakan bagian dari pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar yang terwujud berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah disesuaikan dengan kondisi siswa, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal siswa. Tema yang diangkat dalam tulisan ini adalah penerapan Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam proses belajar mengajar yang berkaitan dengan pengajaran Pendidikan Sosial. Topik ini berkaitan dengan pengajaran tentang permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat, misalnya tema yang berkaitan dengan masalah kesehatan, kesejahteraan, informasi-komunikasi dan pemahaman lintas budaya antar bangsa.
Akhir-akhir ini permasalahan sosial yang muncul adalah penerimaan tenaga kerja asing dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan. Permasalahan sosial ini merupakan masalah dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan yang juga terkait dengan pemahaman lintas budaya. Oleh karena itu, pelaksanaan Sougoutekina Gakushuu no Jikan dalam pengajaran Pendidikan Sosial ini sangatlah diperlukan untuk mengarahkan cara berpikir peserta didik dalam menyikapi dan mengatasi permasalahan, agar tujuan dari pemerintah Jepang mendatangkan tenaga kerja asing bisa terlaksana dengan baik.

2. Latar Belakang Lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan
Istilah Ikiru chikara menginspirasi lahirnya Sougoutekina Gakushuu no Jikan. Definisi ikiru chikara adalah pembinaan dan pengembangan kemampuan bertahan hidup peserta didik sesuai dengan kondisi lingkungan hidupnya. Sougoutekina Gakushu no Jikan sudah dilaksanakan sejak tahun 1998 pada level sekolah dasar, dan lebih disempurnakan lagi tiga tahun kemudian pada level sekolah menengah [5]. Sebetulnya Sougoutekina Gakushu no Jikan sudah menjadi sebuah pemikiran sejak tahun 1977. Pada saat itu, karena dirasa materi pelajaran yang dipahami peserta didik terlalu banyak, maka materi pelajaran dikurangi 10%. Istilah yang mencuat pada saat itu adalah Yutori Kyouiku [7]. Istilah yutori kyouiku tidak dapat diterjemahkan dengan padanan kata yang tepat. Beberapa pakar menyebutkan definisinya sebagai flexible education ataupun clam free education.
Keurang lebih sepuluh tahun kemudian, ikiru chikara dan yutori kyouiku mendasari lahirnya Sougoutekina Gakushu no Jikan. Bersamaan dengan itu, lahir pula kebijakan Gakkou shuuitsukaseika (hari sekolah menjadi 5 hari dalam seminggu) dan kebijakan pengurangan materi ajar. Semua kebijakan tersebut bertujuan agar peserta didik lebih diarahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan keluarga, rumah, dan wilayah tinggalnya. Diusahakan sedapat mungkin peserta didik mengalaminya secara langsung, misalnya dengan lebih banyak bergaul dan beriteraksi dengan orang lain terutama orang asing, yang dapat membentuk kepribadian yang terbuka dan diharapkan bisa menyelesaikan masalah yang timbul dalam kehidupan sosial dimasa mendatang [7]. Jadi prinsip pembelajaran dalam hal ini adalah perolehan pengetahuan bagi peserta didik yang pada dasarnya merupakan pribadi-pribadi yang berbeda satu sama lain, dan pelaksanaannya tidak harus di bangku sekolah, tetapi dapat dilangsungkan di alam, dan atau dalam kehidupan masyarakat sosial.

Banyak orang yang keliru dalam memahami definisi yutori kyouiku. Mereka berpendapat bahwa dengan yutori kyouiku peserta didik menjadi santai dan menjadi tidak tekun pada akhirnya berakibat pada menurunnya kualitas mutu pendidikan. Perubahan ini pun tidak lepas dari pro dan kontra, terutama setelah Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2007 (berdasarkan data tahun 2006). Jepang mengalami penurunan peringkat pada bidang pemahaman bacaan dari peringkat ke14 menjadi ke 15, bidang matematika dari ke 6 menjadi ke 10, dan bidang sains dari peringkat ke 2 menjadi ke 6. Sougoutekina Gakushuu no Jikan dan yutori kyouiku dianggap menjadi penyebab menurunnya peringkat PISA. Sampai sekarang para pakar pendidikan Jepang masih terus mengkaji bagaimana pelaksanaan Sougoutekina Gakushuu no Jikan menjadi lebih baik [6].
Sougoutekina Gakushu no Jikan pada dasarnya tidak bisa disebut dengan istilah bidang studi. karena tidak ada buku pengangan siswa dan tidak ada jam pelajaran yang pasti. Pada prinsipnya, Sougoutekina Gakushu no Jikan memfasilitasi hal-hal yang seharusnya diketahui peserta didik dalam lingkup kesehariannya, yang tidak termuat dalam buku teks pegangan siswa. Dalam Gakushuu Shidou Youryou yang merupakan panduan kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh kementerian pendidikan Jepang, tertulis bidang-bidang studi apa saja yang bisa dikaitkan untuk dikolaborasikan dalam proses kegiatan menerapkan Sougoutekina Gakushu no Jikan, yaitu kokusai rikai (pemahaman lintas budaya antar bangsa), jouho (informasi-komunkasi), kankyou (lingkungkan), rika (sains), fukushi (kesejahteraan), kenkou (pengetahuan kesehatan), chiiki bunka (kebudayaan daerah), dan geijutsu (seni) [4].
Tujuan dan sasaran pembelajaran yang utama adalah bagaimana peserta didik bisa mempertahankan hidup ditengah-tengah permasalahan yang muncul disekitarnya. Sasaran utamanya adalah, peserta didik diarahkan untuk menemukan topik belajar mereka sendiri, memutuskan permasalahan sendiri dengan cara berpikir subyektif. Tujuan utamanya adalah mengembangkan kualitas dan kemampuan diri untuk memecahkan masalah dengan lebih baik dibarengi dengan dukungan pihak-pihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sekolah [4].
Dalam pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan, ada tiga aspek yang harus diperhatikan, yaitu manusia-budaya, alam, dan sosial-masyarakat. Prinsip yang ditekankan adalah learning to live together, dalam arti tidak hanya menjadi manusia unggul dalam bidang kognitif saja, tetapi juga mampu hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat. Tiga kata kunci yang mendasari pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan adalah setsujitsusei (bukan merupakan paksaan yang bisa menyebabkan keputusasaan), genjitsukan ga aru (ada sesuatu yang nyata), dan kyoudou teki de aru (adanya suatu kolaborasi). Jadi, pemilihan topik/tema pengajarannya berdasarkan masalah yang muncul secara nyata di dalam masyarakat, pemecahan masalahnya sebatas kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik, dan kemudian harus ada kolaborasi dengan bidang studi lain dan kolaborasi dengan instansi-instansi masyarakat [3].

Pada tingkat sekolah dasar (SD), peserta didik diarahkan pada kegiatan pengembangan untuk membangkitkan ketertarikan diri terhadap sesuatu. Pada tingkat menengah (SMP dan SMA), diarahkan pada pembentukan moral dan pengetahuan praktis kehidupan yang dikaitkan dengan bidang studi tertentu (dapat merupakan gabungan dari lebih dari dua bidang studi). Pelaksanaan pada tingkat SD difokuskan pada pengembangan diri yang dimulai dari skala terkecil, yaitu keluarga. Kemudian meningkat ke masyarakat kecil (sosialisasi sesama teman sekelas). Pada tingkat SMP, kegiatan ditekankan dengan cara eksplorasi, yaitu belajar untuk mengaitkan suatu masalah dengan teori yang telah dipelajarinya di ruang kelas, kemudian lingkup interaksi lebih diperbesar, dengan teman satu sekolah. Di tingkat SMA, kegiatan pembelajaran ditekankan pada pendalaman suatu permasalahan dan keterkaitannya dengan berbagai bidang ilmu dan lingkup interaksi diperluas dengan intansi diluar sekolahnya.
Dalam Gakushuu Shidou Youryou yang merupakan panduan kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh kementrian pendidikan Jepang, tertulis bahwa jumlah jam pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan pada tingkat SD kelas 3-4 sebanyak 105 jam pelajaran per tahun, kelas 5-6 sebanyak 110 jam pelajaran per tahun. Tingkat SMP kelas 1 sebanyak 100 jam pelajaran per tahun, kelas 2 sebanyak 155 jam pelajaran per tahun dan kelas 3 adalah 235 jam per tahun. Tingkat SMA secara total mulai kelas kelas 1 sampai kelas 3 adalah 105-210 jam per tahun. Pelaksanaannya tergantung pada kebijakan dan kebutuhan masing-masing sekolah. Ada sekolah yang menyelenggarkan secara rutin per minggu, per bulan, per semester dengan waktu yang tertentu. Ada juga sekolah yang tidak menentukan secara periodik, misalnya jika tahun bersangkutan mempunyai rencana menyelenggarakan acara-acara tahunan sekolah, mulai persiapan sampai pelaksanaannya dapat memanfaatkan jam-jam pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan ini [2].
Faktor pendukung seperti dana diperoleh dari Parent Teacher Association (PTA), dinas pendidikan daerah, dan lain sebagainya. Sarana dan prasarananya memanfaatkan apa yang dimiliki masing-masing sekolah, seperti perpustakaan, ruang komputer-internet, ruang audio visual, ruang serba guna, dan kebun sekolah. Penilaian dan evaluasi yang disarankan ada beberapa cara, seperti penilaian porto folio. Kelebihan dari Porto folio adalah sifat “keberlanjutan dan penilaiannya secara indivual. Oleh karena itu porto folio dinilai sangat tepat untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan Sougoutekina gakushu no jikan, karena sifat penilaiannya bukan “produk” tetapi “proses”. 

3. Kolaborasi dengan Kokusai Rikai Kyouiku
Seperti yang sudah diterangkan di atas, definisi Kokusai Rikai Kyouiku adalah pemahaman lintas budaya antarbangsa, keterkaitannya dengan pengajaran Pendidikan Sosial sangat erat, yakni sehubungan dengan masalah-masalah sosial dalam masyarakat Jepang yang muncul sebagai fenomena permasalahan masyarakat moderen. Dalam Gakushuu Shidou Youryou yang merupakan panduan kurikulum pendidikan yang dikeluarkan oleh kementrian pendidikan Jepang tertulis bahwa untuk bisa memahami budaya masyarakat lain diperlukan pengetahuan tentang pemahaman budaya milik sendiri. Dengan begitu akan timbul kesadaran pada perbedaan yang dimiliki orang atau masyarakat orang lain dan nilai-nilai budaya yang berbeda dari orang lain [5].

Banyak cara yang dipakai untuk mewujudkan pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan terkait dengan pengenalan budaya asing, misalnya dengan mengundang orang asing datang ke sekolah atau mewancarai langsung ke tempat orang asing tinggal atau bekerja. Cara yang paling sederhana dan semua orang (pengajar) bisa melakukannya adalah dengan memanfaatkan media otentik dan aktual. Surat kabar mudah didapat dan selalu ada disekitar pengajar dan peserta didik. Kreatifitas pengajar untuk menyajikan hal ini betul-betul diuji, karena masing-masing budaya atau kelompok masyarakat yang diakui sebagai warga asing mempunyai beragam budaya, bahasa dan dengan segala permasalahan yang bagi orang Jepang terkadang tidak masuk di akal.
Pemakaian surat kabar sebagai bahan ajar atau Newspaper In Education dalam dunia pendidikan dan pembelajaran di Jepang beberapa puluh tahun dewasa ini berkembang pesat. Pemanfatan surat kabar dinilai sangat tepat sebagai pengajaran problem solving, karena surat kabar bersifat aktual. Tetapi ada juga kekurangannya, yaitu karena informasinya bersifat “tidak terbatas”, sehingga permasalahan akan muncul apabila pengajar tidak memiliki cukup pengetahuan umum yang memadai.
Bidang kajian pemahaman lintas budaya antar bangsa dalam pendidikan Jepang termasuk maju. Contoh masalah sosial yang berhubungan dengan bidang kajian ini adalah banyaknya jumlah pekerja asing disektor industri. Pekerja asing jumlahnya cukup banyak dan menjadi permasalahan dilematis tersendiri bagi negara Jepang. Jepang membutuhkan tenaga-tenaga kerja asing tersebut tetapi sebaliknya juga sangat kewalahan dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul pada saat warga asing tersebut berinteraksi dengan warga asli.

Dalam pandangan penulis, Jepang adalah negara yang tertata bagus dalam tata sosial masyarakatnya. Salah satu penyebabnya adalah kondisi yang miskin akan sumber daya alam. Oleh karena itu, segala sesuatunya ditentukan oleh peraturan yang harus ditaati oleh warganya, tidak terkecuali warga pendatang. Karena terikat peraturan yang kaku, terkadang terkesan bahwa perasaan sebagai manusia tidak dihargai. Hal ini yang menyebabkan warga asing sulit diterima karena ketertutupan diri mereka sendiri. Sebaliknya, permasalahan dari sisi warga asing adalah permasalahan komunikasi termasuk juga pengetahuan budaya dan kemampuan bahasa. Berkaitan dengan terwujudnya perjanjian kemitraan ekonomi (EPA) termasuk di dalamnya program penerimaan tenaga kerja perawat dan caregivers (perawat untuk para manula) dari Indonesia yang sudah terealisasi sejak bulan Agustus 2008, jumlah pekerja asing di Jepang semakin banyak.
Perserikatan bangsa bangsa (PBB) memperkirakan bahwa di tahun 2040 mendatang jumlah orang tua yang berusia diatas 65 tahun berjumlah 1.240.000.000 orang, diantaranya 70.000. 000 orang adalah orang Asia termasuk Jepang. Saat ini 30% dari penduduk Jepang adalah orang tua yang berusia lebih dari 65 tahun. Jumlah orang Jepang yang berusia 100 tahun atau lebih tercatat sebanyak 25.554 orang. Berdasarkan perhitungan statistik dari total 100.000 penduduk Jepang terdapat sekitar 20 orang yang berusia di atas 100 tahun [8]. Angka ini adalah data tiga tahun sebelum terealisasinya program EPA yang pertama, jadi pada saat sedang dirumuskannya pembicaraan EPA tersebut.
Pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan jika dikaitkan dengan bidang kajian Kokusai Rikai kyouiku akan ada pembahasan bagaimana peserta didik nantinya bisa berinteraksi dengan para caregivers dengan meminimalisir permasalahan-permasalahan yang diprediksi akan timbul. Bagaimana peserta didik menyikapinya setelah nantinya terjun ke masyarakat. Sedangkan permasalahan bagi pihak pekerja asing adalah kurangnya pengetahuan mereka tentang bahasa, budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada masyarakat Jepang.
Kelemahan utama pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan adalah kepekaan pihak sekolah untuk menentukan tema pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah yang ada. Pengadaan sarana dan prasarana sangat erat kaitannya dengan dana, akan tetapi sepenuhnya ketidak-adaan dana bukan sepenuhnya merupakan penghalang yang utama. Ada Karena masalahnya muncul dan ada disekitar peserta didik, maka pemecahannya juga di sekitar tempat tinggal mereka. Jadi, buku teks pegangan siswa tidak selalu bisa menjamin terbentuknya kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang timbul. Kelemahan yang kedua yaitu berkaitan dengan faktor sumber daya manusia, terutama pengajar. Diperlukan kreativitas dan peningkatan pengetahuan dalam mengajar.

4. Kesimpulan
Dalam hal kesehatan dan kesejahteraan, negara Jepang mempunyai angka harapan hidup lebih tinggi dan piramida penduduknya berbalik dengan Indonesia. Permasalahan ini sangat menghantui mereka. Misalnya jika ada suatu pertanyaan secara pribadi kepada mereka, “Siapa yang akan merawat anda jika anda tua? Atau, Mampukah anda menyerahkan orang tua anda atau diri anda sendiri kepada orang asing dengan segala keterbatasan yang dimilikinya? Mereka mengakui banyak yang tidak bisa menjawab pertanyaan semacam itu. Oleh karena itu, pelaksanaan Sougoutekina Gakushu no Jikan dalam pengajaran Pendidikan Sosial bisa dianggap sebagai alternatif penyelesaian.

5. Daftar pustaka
1. Harada K. 2010. Shakaikakyouiku no Furontia Osaka: Hoiku shuppansha. Hal 51-52.
2. Nishimura K dan Kuno H, (ed). 2004. Chiiki Karikyuramu de Sougouteki na Gakushuu wo Tsukuru. Tokyo: Meiji Tosho. Hal 27-28.
3. Kojima K. 2003. Sougou teki na Gakushuu: Handbook. Tokyo: Gyousei. Hal 68-69.
4. Kojima K. 2005. Sogou tekina Gakushuu-Shidouan Shuu. Tokyo: Tosho bunka. Hal 46-49.
5. Nihon shakaika kyouiku gakkai. 2000. Shakaika kyouiku Jiten. Tokyo: Gousei. Hal 324-325.
6. Kebijakan dari Kementrian Pendidikan Nasional Jepang. URL: http://www.mext.go.jp/a_menu/shotou/sougou/020501.htm. Diunduh tanggal 25 Mei 2010.
7. Perubahan mengenai panduan pelaksanaan Kurikulum Pendidikan di Negara Jepang. URL: http://www31.ocn.ne.jp/~matsuo2000/D/Data03.htm. Diunduh tanggal 26 Mei 2010.
8. Data Kementrian Kesehatan Tenaga Kerja dan kesejahteraan Jepang tanggal 16 September 2005. URL: http://www.rofuku.go.jp/oshirase/oshirase_h20.html. Diunduh tanggal 25 Mei 2009.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar